BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Di era
globalisasi ini, nampaknya tasawuf mulai familiar di kalangan masyarakat.
Secara empiris ( pengalaman ), praktik tasawuf kini dianggap sebagai ramuan
penyembuh batin di tengah-tengah krisis kemanusiaan. Kondisi zaman saat ini
yang serba materialistis dan hedonisme ( pandangan yg
menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup ), akan sangat rawan menuju krisis nurani. Maka jika ini
terjadi, manusia akan berujung pada ketidakjelasan tujuan hidup. Barang kali
satu-satunya jalan penyelamat ialah lewat jalan spiritualitas atau terkhusus tasawuf.
Tasawuf merupakaan bagian dari kajian Islam yang tak
terpisahkan dari kajian Islam lainnya, seperti halnya pada kajian tauhid dan
fiqqih. Jika aksentuasi ( penitik beratan ) kajian tauhid terletak pada
soal-soal akidah/pengesaan Allah SWT. dan berbagai hal terkait dengan soal
pokok-pokok agama dan kajian fiqqih menitikberatkan pada soal-soal ijtihadi yang bersifat haliyah- ‘amaliyah- furu’iyah, maka
tasawuf kajiannya terletak pada soal-soal batiniyah
menyangkut hal-hal dzauqi, ruhani, dan
sangat esoteris ( khusus ). Hal-hal inilah yang kemudian membawa pada diskursus
bahwa inti ajaran tasawuf adalah untuk mencapai kehidupan batiniyah dan ruhaniyah (
pertalian langsung dengan Allah ).[1]
1.2
Rumusan Masalah
Mengingat masih rendahnya pengetahuan kami, maka kami
sengaja merumuskan secara lebih mendasar tentang makalah ini. Yaitu :
a. Apa pengertian Ilmu
Tasawwuf secara lughowi/etimologis ?
b. Apa pengertian Ilmu
Tasawwuf secara istilah/terminologi ?
c. Bagaimana cara
penyusunan tinjauan pustaka ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ilmu Tasawuf Secara Lughowi/Etimologis
Nicholson
pernah mengakatan sebagaimana dikutip Alwi Shihab, bahwa antara lain terdapat
78 definis tasawuf. Bahkan menurut As-Suhrawardi, mengakui lebih dari seribu
definis.[2]
Secara lughowi/etimologis ( kebahasaan ),
sebagian ada yang berpendapat kata tasawuf
atau sufi diambil dari kata :
1.
Shaff, yang berarti saf atau barisan. Dikatakan demikian, karena
sufi selalu berada pada baris pertama dalam shalat.[3]
3.
Shuffah, atau shuffat
al-masjid, serambi masjid. Tempat ini didiami oleh sahabat Nabi yang tidak
punya tempat tinggal. Mereka selalu berdakwah dan berjihat demi Allah semata.
Dikatakan sufi karena senantiasa menunjukkan prilaku sebagaimana para sahabat
Nabi SAW. Tersebut.[5]
4.
Shuf, yang berarti bulu domba. Dikatakan demikian, karena para
sufi suka memakai pakaian kasar, tidak suka pakaian halus dan bagus, yang
penting bisa menutupi dari ketelanjangan. Ini dilakukan sebagai tanda taubat
dan kehendaknya untuk meninggalkan kehidupan duniawi.[6]
5.
Shopos, (bahasa Yunani) yang berarti hikmah (kebijaksanaan). Dikatakan demikian, karena sufi selalu
menekan kebijaksanaan.[7]
6.
Shaufana, yaitu sejenis buah-buahan, yang berbentuk kecil dan
berbulu banyak tumbuh di gurun pasir arab. Derivasi (pembetukan kata) kata ini
karena orang-orang sufi banyak memakai pakaian berbulu dan mereka hidup dalam
kesengsaraan fisik, tapi subur bantinnya.[8]
7.
Shuffah, yang artinya pelana yang digunakan oleh para sahabat Nabi
SAW. yang miskin untuk bantal tidur di atas bangku disamping masjid Nabawi
Madinah. Versi lain mengaktakan suffah artinya
suatu kamar disamping masjid Nabawi yang disediakan untuk para sahabat Nabi
dari golongan Muhajirin yang miskin. Penghuni suffah ini disbut ahl
as-shuffah.[9]
Mereka mempunyai sifat teguh dalam pendirian, taqwa, wara’, zuhud, dan tekun
dalam beribadah. Sementara penganmbilan kata shuffah karena kemiripan tabiat ahli sufi dengan ahl as-shuffah.
2.2 Pengertian Ilmu Tasawuf Secara Istilah/etimologi
Secara
istilah ( terminologi ) pun masih banyak pengertian yang dimunculkan.
1.
Abu al-Hasan asy-Syadzili ( 1258 M ), guru spiritual
terkenal dari Afrika Utara, sebagaimana dikutip Fadhalalla Haeri mengartikan,
tasawuf sebagai “ praktik-praktik amalan dan latihan dalam diri seseorang
melalui ibadah dan penyembuhan lain guna mengembalikan diri kepada Allah SWT.”[10]
2.
At-Taftazani juga mencoba memberikan devinisi yang hampir
mencakup seluruh unsur subtansidalam tasawuf sebagai “ sebuah pandangan
filosofi kehidupan yang bertujuan mengembangkan moralitas jiwa manusia yang
dapat direalisasikan melalui latihan-latihan praktis tertentu (riyadliyyat ‘amaliyah mu’ayyanah) yang
mengakibatkan larutnya perasaan dalam hakikat transendental (al-haqiqat al-asma).[11]
Dan banyak
lagi definisi-definisi tasawuf yang tidak bisa kami sebutkan disini. Namun dari
beberapa definisi tersebut, dapat diketahui bahwa tasawuf merupakan suatu upaya
pendekatan diri kepada Allah SWt. melalui kesadaran murni dengan mempengaruhi
jiwa secara benar untuk melakukan berbagai latiha-latihan (riyadlah), baik
secara fisik maupun mental, dan dengan melakukan berbagai ibadah sehingga aspek
uluhiyah dan ruhaniyah dapat mengungguli aspek duniawi dan jasadiyah. Jadi
disini, tasawuf bukanlah perpindahan dari alam fisik (kebendaan) ke alam ruhani,yang mempunyai implikasi bahwa
sufi akan meninggalkan materi. Tasawuf ini merupakan suatu ijtihat atau jihat (
upaya sungguh ) untuk mengeliminasi dominasi materi dalam kehidupan. Artinya,
materi masih tetap dibutuhkan sebagai sarana mencapai tujuan hidup, mendekatkan
diri kepada Allah SWT.[12]
Dan ajaran inti tasawuf adalah mengajarkan dan mengajak
semua umat tentang bagaimana seharusnya menetukan sikap mental (ruhaniyah)
manusia dan mengangkatnya dari derajat paling rendah (asfala safilin), yang
condong diperbudak oleh hawa nafsu, menuju ke arah yang lebih tinggi, yaitu
kearah kesucian ruhani untuk mendapatkan ridho Allah SWT.sehingga mendapat
derajat tertinggi di hadapan Allah SWT. yaitu ahsan taqwim.[13]
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dengan
demikian dapat disederhanakan bahwa pengertian ilmu tasawuf adalah :
A. Bahasa/etimologi :
1.
Shaff, yang berarti saf
atau baris.
2.
Shafa, yang berarti bersih.
3.
Shuffah, atau shuffat al-masjid yang, serambi masjid.
4.
Shuf, yang berarti bulu domba.
5.
Shopos (bhs Yunani) yang berarti hikmah/kebijaksanaan.
6.
Shaufana, sejenis buah-buahan, yang berbentuk kecil dan
berbulu yang banyak tumbuh di gurun pasir Arab.
7.
Shuffaha artinya suatu kamar di Masjid Nabawi yang disediakan
untuk sahabat Nabi dari golongan Muhajirin yang miskin.
B.
Istilah/terminologi :
1.
Tasawuf adalah pengetahuan tentang semua bentuk tingkah
laku jiwa manusia, baik terpuji maupun tercela, kemudian bagaimana
membersihkannya dari yang tercela itu dan menghiasinya dengan yang terpuji,
bagaimana menempuh jaalan kepada Allah dan berlari secepatnya menuju kepada
Allah.
2.
Sufi adalah yang mewarisi ilmu dan amal Rasulullah SAW.,
juga mewarisi akhlaq yang sesuai dengan batin (mental) beliau yang berupa
zuhud, wara’ takut kepada Allah, berharap akan ridhonya, dan sabar.
Jadi ilmu tasawuf itu adalah ilmu
untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun
dhahir dan batin serta untuk memporoleh kebahagian yang abadi.
3.2 Daftar Pustaka
Drs. Cholid Narbuko, Drs. H. Abu Achmadi, Metodologi Dr.
H. Syamsun Ni’am M. Ag. Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf/Syamsun
Ni’am- Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014
hlm 24
Muhammad Ghalab, at-Tasawuf al-Muqaran ( Kairo, Mesir: Maktabah
Nahdliyah, tt.) hlm 26-27
Mir Valiudin, Tasawuf dalam Al-Qur’an, Terj. Tim Pustaka
Firdaus ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987), hlm 1
Abu Bakar Muhammad bin Ishaq al-Kalabadzi, at-Ta’aruf li madzabi ahl at- Tasawwuf (
beirut : Dar al-kutub al-‘Ilmiyah, 1993 ) cet. 1 hlm 9-21
R.A. Nicholshon, The
Mystic of Islam ( London : roudledge and kegan paul, 1975) hlm. 3-4.
Musthafa Abd ar-Raziq, dalam Ahmad asy-Syintawani,
Ibrahim Khursyir dan abd al-Hamid Yunus, Da’irat al-Ma’rifat jilid 5 hlm 266
H.A.R. Gibb, Shorter
Encyclopaedia of Islam (Leiden: E.J.Brill, 1961), hlm. 579
[1] Dr. H. Syamsun Ni’am M. Ag. Tasawuf Studies : Pengantar Belajar
Tasawuf/Syamsun Ni’am- Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2014 hlm 13
[2] Dr. H. Syamsun Ni’am M.
Ag. Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf/Syamsun Ni’am- Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014 hlm 24
[4] Mir Valiudin, Tasawuf dalam Al-Qur’an, Terj. Tim Pustaka
Firdaus ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987), hlm 1
[5] Abu
Bakar Muhammad bin Ishaq al-Kalabadzi, at-Ta’aruf
li madzabi ahl at- Tasawwuf ( beirut : Dar al-kutub al-‘Ilmiyah, 1993 )
cet. 1 hlm 9-21
[7] Musthafa
Abd ar-Raziq, dalam Ahmad asy-Syintawani, Ibrahim Khursyir dan abd al-Hamid
Yunus, Da’irat al-Ma’rifat jilid 5 hlm 266
[11] At-Taftazani, Madkhal, hlm. 8.
[12] Dr. H. Syamsun Ni’am M.
Ag. Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf/Syamsun Ni’am- Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014 hlm 34
[13] Dr. H. Syamsun Ni’am M.
Ag. Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf/Syamsun Ni’am- Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014 hlm 34-35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar