Jumat, 25 Maret 2016

Makalah Pengertian Tasawwuf

BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang


Di era globalisasi ini, nampaknya tasawuf mulai familiar di kalangan masyarakat. Secara empiris ( pengalaman ), praktik tasawuf kini dianggap sebagai ramuan penyembuh batin di tengah-tengah krisis kemanusiaan. Kondisi zaman saat ini yang serba materialistis dan hedonisme ( pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup ), akan sangat rawan menuju krisis nurani. Maka jika ini terjadi, manusia akan berujung pada ketidakjelasan tujuan hidup. Barang kali satu-satunya jalan penyelamat ialah lewat jalan spiritualitas atau terkhusus tasawuf.

                        Tasawuf merupakaan bagian dari kajian Islam yang tak terpisahkan dari kajian Islam lainnya, seperti halnya pada kajian tauhid dan fiqqih. Jika aksentuasi ( penitik beratan ) kajian tauhid terletak pada soal-soal akidah/pengesaan Allah SWT. dan berbagai hal terkait dengan soal pokok-pokok agama dan kajian fiqqih menitikberatkan pada soal-soal ijtihadi yang bersifat haliyah- ‘amaliyah- furu’iyah, maka tasawuf kajiannya terletak pada soal-soal batiniyah menyangkut hal-hal dzauqi, ruhani, dan sangat esoteris ( khusus ). Hal-hal inilah yang kemudian membawa pada diskursus bahwa inti ajaran tasawuf adalah untuk mencapai kehidupan batiniyah dan ruhaniyah ( pertalian langsung dengan Allah ).[1]

1.2            Rumusan Masalah

Mengingat masih rendahnya pengetahuan kami, maka kami sengaja merumuskan secara lebih mendasar tentang makalah ini. Yaitu :
a.    Apa pengertian Ilmu Tasawwuf secara lughowi/etimologis ?
b.    Apa pengertian Ilmu Tasawwuf secara istilah/terminologi ?
c.    Bagaimana cara penyusunan tinjauan pustaka ?







BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Ilmu Tasawuf Secara Lughowi/Etimologis

Nicholson pernah mengakatan sebagaimana dikutip Alwi Shihab, bahwa antara lain terdapat 78 definis tasawuf. Bahkan menurut As-Suhrawardi, mengakui lebih dari seribu definis.[2]

Secara lughowi/etimologis ( kebahasaan ), sebagian ada yang berpendapat kata tasawuf atau sufi diambil dari kata :
1.      Shaff, yang berarti saf atau barisan. Dikatakan demikian, karena sufi selalu berada pada baris pertama dalam shalat.[3]
2.      Shafa, yang berarti bersih. Karena hatinya selalu dihadapkan kehadirat Allah SWT.[4]
3.      Shuffah, atau shuffat al-masjid, serambi masjid. Tempat ini didiami oleh sahabat Nabi yang tidak punya tempat tinggal. Mereka selalu berdakwah dan berjihat demi Allah semata. Dikatakan sufi karena senantiasa menunjukkan prilaku sebagaimana para sahabat Nabi SAW. Tersebut.[5]
4.      Shuf, yang berarti bulu domba. Dikatakan demikian, karena para sufi suka memakai pakaian kasar, tidak suka pakaian halus dan bagus, yang penting bisa menutupi dari ketelanjangan. Ini dilakukan sebagai tanda taubat dan kehendaknya untuk meninggalkan kehidupan duniawi.[6]
5.      Shopos, (bahasa Yunani) yang berarti hikmah (kebijaksanaan). Dikatakan demikian, karena sufi selalu menekan kebijaksanaan.[7]
6.      Shaufana, yaitu sejenis buah-buahan, yang berbentuk kecil dan berbulu banyak tumbuh di gurun pasir arab. Derivasi (pembetukan kata) kata ini karena orang-orang sufi banyak memakai pakaian berbulu dan mereka hidup dalam kesengsaraan fisik, tapi subur bantinnya.[8]
7.      Shuffah, yang artinya pelana yang digunakan oleh para sahabat Nabi SAW. yang miskin untuk bantal tidur di atas bangku disamping masjid Nabawi Madinah. Versi lain mengaktakan suffah artinya suatu kamar disamping masjid Nabawi yang disediakan untuk para sahabat Nabi dari golongan Muhajirin yang miskin. Penghuni suffah ini disbut ahl as-shuffah.[9] Mereka mempunyai sifat teguh dalam pendirian, taqwa, wara’, zuhud, dan tekun dalam beribadah. Sementara penganmbilan kata shuffah karena kemiripan tabiat ahli sufi dengan ahl as-shuffah.

2.2     Pengertian Ilmu Tasawuf Secara Istilah/etimologi
Secara istilah ( terminologi ) pun masih banyak pengertian yang dimunculkan.
1.      Abu al-Hasan asy-Syadzili ( 1258 M ), guru spiritual terkenal dari Afrika Utara, sebagaimana dikutip Fadhalalla Haeri mengartikan, tasawuf sebagai “ praktik-praktik amalan dan latihan dalam diri seseorang melalui ibadah dan penyembuhan lain guna mengembalikan diri kepada Allah SWT.”[10]
2.      At-Taftazani juga mencoba memberikan devinisi yang hampir mencakup seluruh unsur subtansidalam tasawuf sebagai “ sebuah pandangan filosofi kehidupan yang bertujuan mengembangkan moralitas jiwa manusia yang dapat direalisasikan melalui latihan-latihan praktis tertentu (riyadliyyat ‘amaliyah mu’ayyanah) yang mengakibatkan larutnya perasaan dalam hakikat transendental (al-haqiqat al-asma).[11]

Dan banyak lagi definisi-definisi tasawuf yang tidak bisa kami sebutkan disini. Namun dari beberapa definisi tersebut, dapat diketahui bahwa tasawuf merupakan suatu upaya pendekatan diri kepada Allah SWt. melalui kesadaran murni dengan mempengaruhi jiwa secara benar untuk melakukan berbagai latiha-latihan (riyadlah), baik secara fisik maupun mental, dan dengan melakukan berbagai ibadah sehingga aspek uluhiyah dan ruhaniyah dapat mengungguli aspek duniawi dan jasadiyah. Jadi disini, tasawuf bukanlah perpindahan dari alam fisik (kebendaan)  ke alam ruhani,yang mempunyai implikasi bahwa sufi akan meninggalkan materi. Tasawuf ini merupakan suatu ijtihat atau jihat ( upaya sungguh ) untuk mengeliminasi dominasi materi dalam kehidupan. Artinya, materi masih tetap dibutuhkan sebagai sarana mencapai tujuan hidup, mendekatkan diri kepada Allah SWT.[12]

Dan ajaran inti tasawuf adalah mengajarkan dan mengajak semua umat tentang bagaimana seharusnya menetukan sikap mental (ruhaniyah) manusia dan mengangkatnya dari derajat paling rendah (asfala safilin), yang condong diperbudak oleh hawa nafsu, menuju ke arah yang lebih tinggi, yaitu kearah kesucian ruhani untuk mendapatkan ridho Allah SWT.sehingga mendapat derajat tertinggi di hadapan Allah SWT. yaitu ahsan taqwim.[13]

BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan

Dengan demikian dapat disederhanakan bahwa pengertian ilmu tasawuf adalah :

A.    Bahasa/etimologi :

1.      Shaff, yang berarti saf  atau baris.
2.      Shafa, yang berarti bersih.
3.      Shuffah, atau shuffat al-masjid yang, serambi masjid.
4.      Shuf, yang berarti bulu domba.
5.      Shopos (bhs Yunani) yang berarti hikmah/kebijaksanaan.
6.      Shaufana, sejenis buah-buahan, yang berbentuk kecil dan berbulu yang banyak tumbuh di gurun pasir Arab.
7.      Shuffaha artinya suatu kamar di Masjid Nabawi yang disediakan untuk sahabat Nabi dari golongan Muhajirin yang miskin.

B.     Istilah/terminologi :

1.      Tasawuf adalah pengetahuan tentang semua bentuk tingkah laku jiwa manusia, baik terpuji maupun tercela, kemudian bagaimana membersihkannya dari yang tercela itu dan menghiasinya dengan yang terpuji, bagaimana menempuh jaalan kepada Allah dan berlari secepatnya menuju kepada Allah.
2.      Sufi adalah yang mewarisi ilmu dan amal Rasulullah SAW., juga mewarisi akhlaq yang sesuai dengan batin (mental) beliau yang berupa zuhud, wara’ takut kepada Allah, berharap akan ridhonya, dan sabar.

Jadi ilmu tasawuf itu adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin serta untuk memporoleh kebahagian yang abadi.




3.2     Daftar Pustaka
Drs. Cholid Narbuko, Drs. H. Abu Achmadi, Metodologi Dr. H. Syamsun Ni’am M. Ag. Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf/Syamsun Ni’am-  Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014 hlm 24

Muhammad Ghalab, at-Tasawuf al-Muqaran ( Kairo, Mesir: Maktabah Nahdliyah, tt.) hlm 26-27

Mir Valiudin, Tasawuf dalam Al-Qur’an, Terj. Tim Pustaka Firdaus ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987), hlm 1

Abu Bakar Muhammad bin Ishaq al-Kalabadzi, at-Ta’aruf li madzabi ahl at- Tasawwuf ( beirut : Dar al-kutub al-‘Ilmiyah, 1993 ) cet. 1 hlm 9-21

R.A. Nicholshon, The Mystic of Islam ( London : roudledge and kegan paul, 1975) hlm. 3-4.

Musthafa Abd ar-Raziq, dalam Ahmad asy-Syintawani, Ibrahim Khursyir dan abd al-Hamid Yunus, Da’irat al-Ma’rifat jilid 5 hlm 266

H.A.R. Gibb, Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden: E.J.Brill, 1961), hlm. 579













[1] Dr. H. Syamsun Ni’am M. Ag. Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf/Syamsun Ni’am-  Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014 hlm 13
[2] Dr. H. Syamsun Ni’am M. Ag. Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf/Syamsun Ni’am-  Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014 hlm 24
[3] Muhammad Ghalab, at-Tasawuf al-Muqaran ( Kairo, Mesir: Maktabah Nahdliyah, tt.) hlm 26-27
[4] Mir Valiudin, Tasawuf dalam Al-Qur’an, Terj. Tim Pustaka Firdaus ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987), hlm 1
[5] Abu Bakar Muhammad bin Ishaq al-Kalabadzi, at-Ta’aruf li madzabi ahl at- Tasawwuf ( beirut : Dar al-kutub al-‘Ilmiyah, 1993 ) cet. 1 hlm 9-21
[6] R.A. Nicholshon, The Mystic of Islam ( London : roudledge and kegan paul, 1975) hlm. 3-4.
[7] Musthafa Abd ar-Raziq, dalam Ahmad asy-Syintawani, Ibrahim Khursyir dan abd al-Hamid Yunus, Da’irat al-Ma’rifat jilid 5 hlm 266
[8] H.A.R. Gibb, Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden: E.J.Brill, 1961), hlm. 579
[9] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), Hlm 57.
[10] Syaikh Fadhalalla Haeri, The Element of Sufism (USA: Element, inc, 1993), hlm. 2
[11] At-Taftazani, Madkhal, hlm. 8.
[12] Dr. H. Syamsun Ni’am M. Ag. Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf/Syamsun Ni’am-  Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014 hlm 34
[13] Dr. H. Syamsun Ni’am M. Ag. Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf/Syamsun Ni’am-  Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014 hlm 34-35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar