Jumat, 25 Maret 2016

Resume Studi Hadist

·         Definisi Ilmu Hadist
عِلْمُ الْحَدِيْثِ عِلْمٌ بِقَوَانِيْنَ يُعْرَفُ بِهَا أَحْوَالُ السَّنَدِ وَالْمَتَنِ
“Ilmu hadits adalah ilmu tentang kaidah-kaidah dasar untuk mengetahui keadaan suatu sanad atau matan.”

·         Topik pembahasan ilmu hadits sanad dan matan.

·         Tujuan Mempelajari Ilmu Hadits: Mengetahui hadits-hadits yang shahih dari yang selainnya.


·         Sanad Atau Isnad
السَّنَدُ أَوِ (الإِسْنَادُ): هُوَ سِلْسِلَةُ الرُّوَاةِ الْمَوْصِلَةُ إِلَى الْمَتَنِ
Sanad atau isnad yaitu silsilah (mata rantai) perawi yang menghubungkan kepada suatu matan.

·         Matan
الْمَتَنُ: هُوَ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ السَّنَدُ مِنْ كَلاَمٍ
Matan adalah ucapan atau kalimat yang berhenti padanya sebuah sanad.

·       Pengertian Hadist
الحَدِيْثُ: هُوَ مَا وَرَدَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ (سُكُوْتُ عَنْ فِعْلٍ حَدَثَ أَمَامَهُ) أَوْ صِفَةٍ (خَلْقِيَّةٍ أَوْ خُلُقِيَّةٍ)

“Hadits ialah semua yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam baik yang berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan (diamnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari perbuatan yang terjadi di hadapannya) atau sifat (postur tubuh/perilaku).”
·         Hadits dilihat dari segi diterima atau tidaknya terbagi menjadi tiga, yaitu:
1.Shahih 
2.Hasan
3.Dha’if

·         Definisi Hadis Shahih
هُوَ مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ ضَبْطاً كَامِلاً عَنْ مِثْلِهِ وَ خَلاَ مِنَ الشُّذُوْذِ وَ الْعِلَّةِ
“Hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh orang ‘adil dan dhabith (kuat daya ingatan) sempurna dari sesamanya, selamat dari kejanggalan (syadz), dan cacat (‘illat)”.

Jadi yang dimaksud hadis shahih adalah hadis yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat.

·         Kaedah Kesahihan sanad
1.      Ittishalu sanad (bersambungnya sanad )
2.      Perawi bersifat adil
3.      Perawi bersifat Dhabit
4.      Terhindar dari Syudzutz ( kejanggalan )
5.      Terhindar dari ‘illah ( cacat )

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim membuat kriteria hadis shahih sebagai berikut:
1.      Rangkaian ar-râwiy (periwayat) dalam sanad itu harus bersambung mulai dari ar-râwiy (periwayat) pertama sampai ar-râwiy (periwayat) terakhir.
2.      Para ar-râwiy (periwayat)nya harus terdiri dari orang-orang yang dikenal siqat, dalam arti ‘adil dan dhabithh,
3.      Hadisnya terhindar dari ‘illat (cacat) dan syadz (janggal), dan
4.      Para ar-râwiy (periwayat) yang terdekat dalam sanad harus sejaman.

1.      Sanad Bersambung
Tiap-tiap ar-râwiy (periwayat) dari periwayat lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya, dari sejak awal hingga akhir sanadnya.

Cara Mengetahui Bersambung Dan Tidaknya Suatu Sanad
1.      Mencatat semua periwayat yang diteliti
2.      Mempelajari hidup masing-masing periwayat
3.      Meneliti kata-kata yang berhubungan antara para periwayat dengan periwayat   yang   terdekat dalam sanad, yakni apakah    kata-kata yang terpakai berupa haddatsanî, haddatsanâ, akhbaranâ, akhbaranî, ‘an, anna, atau kata-kata lainnya.
2.      Ar-Râwiy (Periwayat)-Nya Bersifat ‘Adil
Maksud adil adalah  tiap-tiap ar-râwiy (periwayat) :
1.      Seorang muslim,
2.      Berstatus mukallaf  (baligh),
3.      Bukan fâsiq  (ahli maksiat)
4.      Akhlaknya baik (muru’ah)
3.      Ar-Râwiy (Periwayat)-Nya Bersifat Dhabit
-          Masing-masing ar-râwiy (periwayat)-nya sempurna daya ingatannya, baik berupa kuat ingatan (في الصدور) maupun dalam tulisan (في السّطور).
-          Dhabith dalam dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan, sejak ia manerima hadis sampai meriwayatkannya kepada orang lain, sedang, dhabith dalam kitab ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan.

Sifat-sifat kedhabithan periwayat (الراوي) dapat diketahui melalui:
1.      Kesaksian para ulama
2.      Berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari    orang lain yang telah dikenal ke-dhabith-annya.
4.        Tidak Syadz  (Janggal)
-          artinya bertentangan atau menyelesihi orang yang terpercaya (Tsiqah).
-          Suatu hadis dinyatakan syudzudz, bila hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah tersebut bertentengan dengan hadis yang dirirwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat tsiqah.
5.      Tidak Ber’illat
-          Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya, dalam arti adanya sebab yang menutup tersembunyi yang dapat mencederai pada ke-shahih-an hadis, sementara zhahirnya selamat dari cacat.

-          ‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad mapun pada matn (matan/teks) atau pada keduanya secara bersama-sama. Namun demikian, ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad (السند), seperti menyebutkan muttasil terhadap hadis yang munqati’ atau mursal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar