·
Definisi Ilmu Hadist
عِلْمُ الْحَدِيْثِ عِلْمٌ بِقَوَانِيْنَ يُعْرَفُ بِهَا أَحْوَالُ السَّنَدِ وَالْمَتَنِ
عِلْمُ الْحَدِيْثِ عِلْمٌ بِقَوَانِيْنَ يُعْرَفُ بِهَا أَحْوَالُ السَّنَدِ وَالْمَتَنِ
“Ilmu hadits adalah ilmu tentang
kaidah-kaidah dasar untuk mengetahui keadaan suatu sanad atau matan.”
·
Topik pembahasan ilmu hadits sanad
dan matan.
·
Tujuan Mempelajari Ilmu Hadits: Mengetahui
hadits-hadits yang shahih dari yang selainnya.
·
Sanad Atau Isnad
السَّنَدُ أَوِ (الإِسْنَادُ): هُوَ سِلْسِلَةُ
الرُّوَاةِ الْمَوْصِلَةُ إِلَى الْمَتَنِ
“Sanad atau isnad yaitu silsilah (mata
rantai) perawi yang menghubungkan kepada suatu matan.”
·
Matan
الْمَتَنُ: هُوَ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ
السَّنَدُ مِنْ كَلاَمٍ
“Matan adalah ucapan atau kalimat yang
berhenti padanya sebuah sanad.”
· Pengertian Hadist
الحَدِيْثُ: هُوَ مَا وَرَدَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ (سُكُوْتُ عَنْ
فِعْلٍ حَدَثَ أَمَامَهُ) أَوْ صِفَةٍ (خَلْقِيَّةٍ أَوْ خُلُقِيَّةٍ)
“Hadits ialah
semua yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam baik yang
berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan (diamnya Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam dari perbuatan yang terjadi di hadapannya) atau sifat (postur
tubuh/perilaku).”
·
Hadits dilihat dari segi diterima atau tidaknya
terbagi menjadi tiga, yaitu:
1.Shahih
2.Hasan
3.Dha’if
1.Shahih
2.Hasan
3.Dha’if
·
Definisi Hadis Shahih
هُوَ مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ
الضَّابِطِ ضَبْطاً كَامِلاً عَنْ مِثْلِهِ وَ خَلاَ مِنَ الشُّذُوْذِ وَ
الْعِلَّةِ
“Hadis yang muttasil (bersambung)
sanadnya, diriwayatkan oleh orang ‘adil dan dhabith (kuat daya ingatan)
sempurna dari sesamanya, selamat dari kejanggalan (syadz), dan cacat (‘illat)”.
Jadi yang
dimaksud hadis shahih adalah hadis yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit
dan cacat.
·
Kaedah Kesahihan
sanad
1.
Ittishalu sanad
(bersambungnya sanad )
2.
Perawi bersifat
adil
3.
Perawi bersifat
Dhabit
4.
Terhindar dari
Syudzutz ( kejanggalan )
5.
Terhindar dari
‘illah ( cacat )
Imam Al-Bukhari dan
Imam Muslim membuat kriteria hadis shahih sebagai berikut:
1.
Rangkaian ar-râwiy
(periwayat) dalam sanad itu harus bersambung mulai dari ar-râwiy
(periwayat) pertama sampai ar-râwiy (periwayat) terakhir.
2.
Para ar-râwiy (periwayat)nya harus terdiri dari
orang-orang yang dikenal siqat, dalam arti ‘adil dan dhabithh,
3.
Hadisnya terhindar dari ‘illat (cacat) dan syadz
(janggal), dan
4.
Para ar-râwiy (periwayat) yang terdekat dalam
sanad harus sejaman.
1.
Sanad Bersambung
Tiap-tiap ar-râwiy (periwayat) dari periwayat
lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya, dari
sejak awal hingga akhir sanadnya.
Cara Mengetahui Bersambung Dan Tidaknya Suatu Sanad
1.
Mencatat semua periwayat yang diteliti
2. Mempelajari
hidup masing-masing periwayat
3.
Meneliti
kata-kata yang berhubungan antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad,
yakni apakah kata-kata yang terpakai
berupa haddatsanî, haddatsanâ, akhbaranâ, akhbaranî, ‘an, anna, atau
kata-kata lainnya.
2. Ar-Râwiy (Periwayat)-Nya Bersifat ‘Adil
Maksud adil adalah tiap-tiap ar-râwiy
(periwayat) :
1. Seorang
muslim,
2. Berstatus
mukallaf (baligh),
3. Bukan
fâsiq (ahli maksiat)
4. Akhlaknya baik (muru’ah)
3. Ar-Râwiy (Periwayat)-Nya Bersifat Dhabit
-
Masing-masing ar-râwiy
(periwayat)-nya sempurna daya ingatannya, baik berupa kuat ingatan (في الصدور) maupun dalam tulisan (في السّطور).
-
Dhabith dalam
dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan, sejak ia manerima hadis
sampai meriwayatkannya kepada orang lain, sedang, dhabith dalam kitab
ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan.
Sifat-sifat kedhabithan periwayat (الراوي) dapat
diketahui melalui:
1.
Kesaksian para
ulama
2.
Berdasarkan
kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari
orang lain yang telah dikenal ke-dhabith-annya.
4. Tidak Syadz (Janggal)
-
artinya bertentangan atau menyelesihi orang
yang terpercaya (Tsiqah).
-
Suatu hadis
dinyatakan syudzudz, bila hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat
yang tsiqah tersebut bertentengan dengan hadis yang dirirwayatkan oleh
banyak periwayat yang juga bersifat tsiqah.
5. Tidak Ber’illat
-
Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya, dalam
arti adanya sebab yang menutup tersembunyi yang dapat mencederai pada ke-shahih-an
hadis, sementara zhahirnya selamat dari cacat.
-
‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad mapun pada matn
(matan/teks) atau pada keduanya secara bersama-sama. Namun demikian, ‘illat
yang paling banyak terjadi adalah pada sanad (السند), seperti menyebutkan muttasil terhadap hadis yang munqati’
atau mursal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar